Cerita Indro Warkop saat Istri Kena Kanker Paru, Gejala Awal Batuk Tak Sembuh

Jakarta –

Kanker merupakan penyakit yang membuat Indra “Warkop” terkesan. Selain merenggut kedua orang tuanya, Kasin dan Don, penyakit kanker juga menyebabkan anggota termuda Warkop DKI itu harus berpisah selamanya dengan istri tercintanya.

Istri Indra, Nita Oktobijanta, pertama kali didiagnosis menderita kanker paru-paru pada tahun 2017. Sebelumnya, Nita mengeluhkan batuk yang tak kunjung berhenti.

Ia juga tidak didiagnosis mengidap kanker paru-paru untuk pertama kalinya pada tahun 2017. Saat itulah ia mengalami gejala berupa batuk. Namun almarhum langsung dilarikan ke unit gawat darurat (EDH) karena tak kunjung sembuh, muncul kram perut, dan terjatuh tak sadarkan diri.

“Saya pingsan dan masuk IGD dan akhirnya ternyata kanker di dada saya,” kata Indro Pantai Indah kepada Kapuk 2, Minggu (4/2) “Menciptakan Kesenjangan Kanker di Hari Kanker Sedunia” di acara tersebut. . /2024).

Kebetulan saat itu Indro sedang mempromosikan sebuah film. Namun kabar jatuhnya istrinya langsung membuatnya tidak berpikir panjang.

“Waktu itu aku lagi promosi film. Entah kenapa, kalau terjadi apa-apa sama aku, rasanya aku sakit, hampa. Aku nggak bisa ngomong apa-apa,” ungkapnya.

Untungnya, produser kemudian mengizinkan Indra pulang dan menyusul istri tercintanya.

“Produser saya bilang, ‘Mas Indra, jangan ikut promosi, segera ke rumah sakit, adopsi istri tercinta selamanya’. Untungnya, saya menemukan produser yang sangat memahami saya,” ujarnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Nita didiagnosis menderita kanker paru stadium lanjut. Tiba-tiba Indro mogok. Apalagi saat dokter menanyakan kebiasaan merokok istrinya.

“Ketika saya tahu ada orang terdekat saya yang mengidap penyakit ini, saya sangat terpukul. Bahkan dokter saat itu, yang pertama di bidang paru-paru, langsung berkata, ‘Kamu merokok ya?’” Itu membuat saya patah hati, dia berkata.

“Saya berhenti merokok pada tahun 1998, tapi istri saya tetap tidak bisa berhenti merokok. Saya merasa bersalah. Itu membuat saya sedih,” lanjut pria berusia 65 tahun itu.

(kuda/kuda)

Takut dan Cemas Setelah Didiagnosis Kanker, Begini Cara Mengatasinya

Yuda Herbal, JAKARTA — Hari Kanker Sedunia yang diperingati setiap tanggal empat bulan Maret, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan, deteksi, dan pengobatan penyakit kanker. Namun diagnosis kanker bisa sangat menghancurkan secara emosional, membuat pasien merasa cemas dan takut.

Untuk mengurangi stres akibat diagnosis, Mayo Clinic merekomendasikan untuk melakukan beberapa hal. Pertama, mencari informasi sebanyak mungkin tentang diagnosis kanker akan membantu Anda memutuskan pengobatan.

Dikutip dari Mayo Clinic Selasa (2/6/2024) Jika Anda merasa sangat marah karena cemas, cobalah menuliskan semuanya. Buatlah daftar pertanyaan dan kekhawatiran tentang kanker Anda, dan tanyakan saat Anda menemui penyedia layanan kesehatan Anda.

Daftar pertanyaan mungkin mencakup, namun tidak terbatas pada, jenis kanker apa yang Anda derita, di bagian tubuh mana kanker menyebar, dan seberapa besar kemungkinan kanker tersebut dapat disembuhkan? Masalah lain yang berkaitan dengan pengobatan yang baik, seperti manfaat dan efek pengobatan.

Mungkin masih banyak pertanyaan lain, dan ada baiknya untuk menuliskan semuanya. Pertimbangkan untuk membawa anggota keluarga atau teman ke beberapa janji temu pertama Anda untuk mendengarkan jawaban dokter.

Ada yang menginginkan semuanya secara detail. Namun ada juga yang ingin mengetahui hasilnya dan menyerahkan rencananya kepada penyedia layanan kesehatan. Karena tidaklah adil untuk hanya beradaptasi dengan apa yang terbaik bagi Anda.

Ingatlah untuk tetap terhubung dengan orang-orang terdekat Anda setelah diagnosis kanker. Orang bisa merasa sendirian jika jalur komunikasi tidak terbuka dan membicarakan penyakit kankernya.

Cobalah untuk terbuka terhadap orang-orang yang menjadi milik Anda. Meski terdengar membingungkan dan pahit, bagikan pemikiran dan perasaan Anda tentang kanker Anda. Komunikasi dapat mengurangi kecemasan dan ketakutan terhadap diagnosis kanker.

Segera setelah terdiagnosis kanker, ia berencana melakukan berbagai hal, bahkan mengantisipasi kemungkinan perubahan pada tubuhnya. Selain itu, pertimbangkan untuk bergabung dengan kelompok dukungan kanker untuk mendapatkan masukan dari sesama pasien dan penyintas kanker.

Berbicara dengan orang lain yang menderita kanker dapat membantu Anda memahami perasaan Anda. Sementara itu, orang-orang yang pernah mengalami situasi serupa atau selamat dari kanker dapat berbagi pengalaman dan menyampaikan lebih banyak hal tentang pengobatan.

Jika pengobatan kanker Anda berpotensi mempersulit Anda dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, rencanakan hal ini. Saya meminta bantuan untuk pekerjaan rumah tangga. Jika Anda khawatir, konsultasikan dengan seseorang.